2

SEMINAR EPILEPSI



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Epilepsi didefinisikan sebagai suatu sindrom yang ditandai oleh gangguan fungsi otak yang bersifat sementara dan paroksismal, yang memberi manifestasi berupa gangguan, atau kehilangan kesadaran, gangguan motorik, sensorik, psikologik, dan sistem otonom, serta bersifat episodik. Defisit memori adalah masalah kognitif yang paling sering terjadi pada pederita epilepsy.
Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari narkotik.Di Inggris, satu orang diantara 131 orang mengidap epilepsi.
Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) sekira 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 Epilepsy.com).


BAB II
ANALISIS KASUS EPILEPSI
A. Pengertian
Epilepsi yang sukar untuk mengendalikan secara medis atau pharmacoresistant, sebab mayoritas pasien dengan epilepsi adalah bersifat menentang, kebanyakan yang sering terserang terlebih dahulu yaitu bagian kepala. Obat yang bias menenangkan antiepileptik yang standar. Berkaitan dengan biomolekular basis kompleksnya. Sakit kepala yang menyerang sukar sekali untuk diperlakukan secara pharmakologis, walaupun obat antiepileptic sudah secara optimal diberikan,sekitar 30-40% tentang penderita epilepsi yang terjangkit, biasanya pasien melakukan operasi pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Akan tetapi gejala epilepsi akan timbul sesekali, karena epilepsi sukar untuk dihilangkan rasa sakit kepala yang menyerang.
Epilepsi dapat dibagi dalam tiga golongan utama antara lain:
· Epilepsi Grand Mal
Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum, dan bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal berlangsung selama 3 atau 4 menit.
· Epilepsi Petit Mal
Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan (twitch- like),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.
· Epilepsi Fokal
Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regional setempat pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh lesi organik setempat atau adanya kelainan fungsional.


B. ANALISIS KASUS TERINTEGRITAS TOPIK PENYAKIT EPILEPSI
Penyandang “Epilepsi” sering dijauhi oleh teman dan warga sekitarnya.
Melihat seorang yang tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang, reaksi kebanyakan orang justru menjauhinya. Mereka takut menyentuhnya apalagi membantunya sebab takut ketularan. Ini adalah sikap yang tidakbijaksana, sebab “Epilepsi” yang lebih dikenal sebagai penyakit ‘ayan’ sangat jelas tidak menular.

Mengenal Epilepsi
Epilepsi bukan disebabkan oleh kuman atau bakteri. Ia merupakan gangguan mendadak dan sesaat pada sistem syaraf otak, terjadi akibat aktivitas berlebihan dari kelompok sel neuron di otak. Penyebab sel-sel itu menjadi terlalu aktif belum diketahui secara pasti. Tetapi yang pasti gangguan Epilepsi dapat diredam. Epilepsi bukan hambatan untuk meraih kesuksesan seperti dibuktikan oleh banyak menyandang epilepsi yang telah mengukir kemasyhuran di berbagai bidang, antara lain : Alexander the Great, Alfred Nobel, Napoleon Bonaparte, Peter Tchaikovsky dan Vincent Van Gogh. Masyarakat umum hendaknya bersikap wajar menghadapi anggota masyarakat yang kebetulan cenderung mendapat serangan epilepsi.
Hubungan Epilepsi dengan Keturunan dan Pekerjaan
Pada epilepsi yang disebabkan oleh kumpulan gejala sebagai akibat dari
berbagai penyakit, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya.
Sebagai contoh: epilepsi yang timbul sebagai akibat cedera otak karena kecelakaan, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya. Pada epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui ( epilepsi idiopatis), faktor keturunan pada penyandang epilepsi adalah kecil, kurang dari 5%. Yang diturunkan bukan epilepsinya, tetapi ambang rangsang kejang atau serangan yang rendah yang diturunkan. Namun bila kedua pasangan adalah penyandang epilepsi, maka resiko untuk mendapatkan anak dengan epilepsi menjadi lebih besar.
Adalah bijaksana untuk konsultasi pada dokter sebelum hamil. Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi bergantung pada jenis epilepsinya dan sejauh mana serangannya dapat dikendalikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah keselamatan kerja bagi penyandang epilepsi dan orang lain bila mendapat serangan.
Sebagian besar dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi seperti pekerja tangan, guru, pekerja sosial, peneliti, penerjemah, olahragawan, pekerja kantor, ilmuwan.
Beberapa pembatas kerja bagi penyandang epilepsi adalah sebagai tentara,
polisi, pengemudi kendaraan umum (supir bis, pilot, masinis), pemadam
kebakaran, bekerja dengan mesin putar, berhubungan dengan alat listrik
tegangan tinggi, pekerja bangunan tinggi, operator alat pemanas atau
alat yg mudah pecah. Yang utama bagi penyandang epilepsi adalah
merencanakan pendidikannya sesuai dengan bakat dan keinginannya tetapi
dengan mempertimbangkan pada beberapa pekerjaan yang mengandung resiko
membahayakan dirinya atau orang lain bila mendapat serangan.
Epilepsi atau ayan bukanlah penyakit, melainkan suatu kondisi yang timbul akibat munculnya impuls listrik otak (seluruh bagian otak) yang bekerja tidak semestinya. Gejala klinisnya sangat kompleks, tetapi proses abnormal listrik sel-sel otak itu bisa terlihat pada Elektro Encephalografi (alat rekam listrik otak).
Pada keadaan normal, listrik otak akibat reaksi yang timbul adalah semua fungsi tubuh normal, seperti fungsi motorik, sensorik, fisik, dan organ-organ autonom. ''Ketika serangan epilepsi datang, penderita tersebut memancarkan listrik berlebih di otaknya yang mengakibatkan berbagai bentuk serangan. Misalnya, mendadak jatuh, kejang-kejang, kehilangan kontrol pada fungsi kencing atau buang air, mendadak mencium bau aneh, mendengar suara aneh, terjadi halusinasi atau ilusi, dan melihat kilatan-kilatan cahaya.
Penyebab epilepsi sendiri, terbagi dua kelompok, yakni idiopatik dan symtomatic.
Idiopatik merupakan golongan yang belum atau tidak diketahui penyebabnya.''Termasuk dalam bagian ini adalah yang bersifat diturunkan atau keturunan (genetik). Dari golongan idiopatik sebagian besar tidak permanen, sehingga pada usia tertentu akan sembuh total. Saat ini berkembang penelitian tentang pengobatan genetik. symtomatic adalah golongan penderita epilepsi yang diketahui penyebabnya, seperti kelainan metabolik, trauma kepala, tumor kepala, stroke, kelainan pembuluh darah otak, infeksi otak, kelainan otak bawaan lahir atau pada perkembangannya, keracunan otak seperti logam timah dan penyakit-penyakit lain semisal Lupus Erythematosus ''Ada yang mengatakan, jika tersentuh busa atau lidah penderita epilepsi yang sedang terserang akan tertular, padahal tidak.
Prevalensi penderita epilepsi di Eropa yang berpenduduk 810 juta orang, terjadi serangan satu atau lebih dari sepanjang hidup orang Eropa terdapat 16 sampai 40 juta orang. Kasus insiden baru antara 40 sampai 70 per 100 ribu penduduk terdapat 0,3 sampai 0,6 juta orang menjadi epilepsi per tahunnya. ''Prevalensi di belahan Eropa baik kasus baru dan lama yang masih aktif per tahun ada 0,4 sampai 0,8 atau sebesar 3,2 sampai 6,5 juta orang,'.
Untuk Amerika dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, diketahui terjadi insiden epilepsi 30-50 orang per 100 ribu per tahunnya. Prevalensinya 5-8 orang per 1.000 orang per tahun atau 1,25 sampai 2 juta orang per tahunnya. ''Sayangnya, prevalensi di Indonesia belum diketahui datanya secara pasti dan akurat.
Tidak ter-cover-nya penderita epilepsi ini dirasakan Nizar, karena faktor ekonomi, sehingga tidak pergi/berobat ke dokter dan faktor sosial. ''Diperberat lagi dengan mitos atau stigma bagi penderita epilepsi. Mereka dikatakan kemasukan setan atau diguna-guna, sehingga enggan berobat ke dokter. Sakit mental atau idiot. Ada lagi yang mangatakan kalau penyebabnya karena keturunan. Padahal, persentasenya sangat kecil dan itu pun sebagian besar terjadi pada usia tertentu dan sembuh.
Epilepsi, sesungguhnya dapat disembuhkan dengan obat-obat biasa. ''Dari seluruh penderita epilepsi hampir 85% sembuh total dan sisanya bisa terkontrol. Bahkan dalam persentase kecil operasi perlu dilakukan.
Kematian pada penderita, bukan disebabkan semata-mata oleh epilepsinya sendiri. Kecuali pada penderita (status epilepsi) dengan tipe kejang umum (terus-menerus) ''Kematian lebih disebabkan karena benturan kepala akibat pendarahan otak atau diperburuk oleh penyakit lain, seperti jantung atau organ pernapasan, serta sebab-sebab nonmedis, semisal putus asa, sehingga melakukan bunuh diri.
Menangani Epilepsi
Epilepsi bukan penyakit, tetapi suatu kondisi akibat timbulnya impuls listrik otak yang tidak bekerja normal. Pada waktu serangan penderita tidak melukai dirinya; jangan memaksa dengan kekuatan untuk menahan gerak penderita, kecuali pada tempat berbahaya; letakkan di tempat datar jika serangan pada posisi duduk atau berdiri; lepaskan semua
yang mengganggu di leher; jauhkan semua benda keras atau berbahaya dari penderita; posisikan pada satu sisi mulut/kepala penderita untuk mencegah tertelannya ludah atau sesuatu di mulut; letakkan bantalan lunak pada kepala dan leher; jangan masukkan sesuatu baik makanan/minuman/ obat ke mulut; setelah serangan biasanya lemas, perlu dibantu untuk pulang, tetapi jika tidur biarkan sampai bangun.
Seminar isu keperawatan yang berfokus pada konsep:
1.      komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi  secara langsung  maupun tidak langsung.
Epilepsi yang berkembang di tengah masyarakat adalah semacam penyakit yang ditandai dengan kejang-kejang. Pada umumnya epilepsi bisa muncul karena penderita mengalami kelelahan atau mengalami benturan di kepala, lalu sejurus kemudian mengalami kejang. Epilasi bukanlah penyakit baru, epilepsi sudah dialami sejak zaman kuno. Pada zaman dahulu epilepsi dikenal sebagai bentuk pengalaman religi yang dikaitkan dengan pengaruh setan. Pada zaman itu epilepsi disebut sebagai penyakit suci, karena serangan epilepsi terjadi disebabkan oleh serangan setan.
Namun, disisi lain epilepsi dianut oleh penganut animisme dipahami sebagai serangan dari roh jahat. Penderita epilepsi yang terkena serangan dari roh jahat ini bisa memiliki kekuatan seperti dukun melalui pengalaman dunia lain.
Epilepsi banyak diderita oleh masyarakat di seluruh dunia. Secara umum, berdasarkan asumsi dari berbagai budaya bangsa, penderita epilepsi distigmakan harus dijauhi dan dikucilkan. Di salpetriere, tempat lahirnya paham neurologi modern, seorang neurologi modern Jean Martin Charcot mengungkapkan bahwa penderita epilepsi mengalami keterbelakangan mental, mengalami sifilis yang kronis dan melakukan tindakan kriminal.
Sedangkan di tanzania dan Afrika, epilepsi dikaitkan dengan penaruh roh-roh jahat, ilmu sihir dan keracunan serta diyakini akan menular kepada orang lain. Di romawi kuno epilepsi dikenal dengan nama Morbus Comitialis atau kutukan dari para dewa penguasa Romawi Kuno.
Di indonesia khususnya didaerah NTT  epilepsi lebih dikenal dengan istilah “ mati kambing”. Hal itu dikarenakan masyarakat memiliki pandangan yang keliru dimana mereka menganggap bahwa epilepsi bukanlah penyakit tapi terjadi karena masuknya roh jahat, kesurupan, guna-guna atau suatu kutukan. Anggapan ini terjadi karena epilepsi terjadi ditempat umum, secara tiba-tiba, dan disaksikan oleh banyak orang sehingga menyebabkan berbagai persepsi yang keliru.
Fungsi penyuluhan dari penyakit epilepsi adalah agar masyarakat memahami epilepsi bukanlah penyakit yang menular dan dijauhi oleh masyarakat karena dapat menyebabkan orang yang terkena epilepsi tidak dapat  melakukan hidup dengan layak dalam karirnya.selain itu diperlukan penanganan yang maksimal dan menyeluruh dari   masyarakat, keluarga, hingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan keluar dari bayangan stigma yang ada.
2.      Antropologi dan Sosiologi
Epilepsi adalah suatu penyakit kejang yang  lebih dikenal dimasyarakat sebagi ayan . penyakit ini umumnya diderita oleh orang dewasa dan mudah kambuh jika si penderita mengalami kelelahan atau tekanan emosi . di masyarakat pedesaan,epilepsy atau ayan sering dikaitkan dengan penyakit akibat guna-guna atau gangguan setan. Namun, secara ilmu kedokteran , epilepsy bisa dijelaskan dengan lebih masuk akal sebagai kelainan psikis yang abnormal karena adanya muatan listrik dibagian otak tertentu.
Gejala epeilepsi dimulai pada suatu bagian tubuh tertentu , misalnya tangan atau kaki, dnan kemudian menjalar ke anggota gerak ,sejalan dengan penyebaran aktivitas listrik di otak. Pada tahap kompleks, penderita bisa mengalami hilang kontak denagn lingkungannya selama 12 menit. Kemudian , dilanjutkan dengan mengeluarkan suara-suara aneh,kejang otot yang hebat dan sentakan-sentakan diseluruh tubuh. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala,linglung sementara dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang terjadi setelah kejang.
Pada dasaranya masyarakat pendesaan menyebutkab bahwa ayan atau epilepsy  adalah penyakit akibat adanya guna-guna atau mereka punya kepercayaan,terhadap hal-hal gaib,yang mengakibatkan setiap penyakit yang ada itu diakibatkan oleh adanya orang yang membuat karena faktor maslah keluarga atau faktor dendam.
Beberapa faktor yang mengakibatkan adanya kepercayaan terhdap hal-hal tersebut:
-          Masyarakat masih mempunyai pemikiran tradisional
-          Kurangnya pemahaman akan beberapa penyakit akan beberapa jenis kesehatan
-          Minimnya jasa pelayanan kesehatan di pedesaan sehingga para masyrakat pedesaan lebih bnayak memilih menggunakan obat yang tradisional atau masih terkait dengan hal-hal gaib.
-          Banyaknya kesenjangan antara masyarakat sehingga banyak anggapan bahwa suatu penyakit itu merupakan perbuatan anata sesame masyarakat karena adanya unsure dendam.
Sementara epilepsi adalah penyakit yang terjdi akibat adanya kesalahan dalam otak,dimana epilepsy sering terjadi sejak adanya kesalahan dalam sistem persarafan sehingga mengakibatkan seseorang dapat mengakibatkan seseoranng mengalami kehilangan kesadaran dan mengalami kejang otot yang berlebihan dan membuat seseorang kehilangan kesadarannya.
3.      Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan hal-hal lainnya yang ada disekitar orgsnisme tersebut. Pada masalah issue keperawatan yang berfokus pada permasalahan tentang penyakit epilepsi yang terjadi dilingkungan masyarakat pedalaman. Berdasarkan mitos yang ada penyakit epilepsi sangat erat hubungannya dengan kondisi dari lingkungan si penderita tersebut. Ekologi tentang penayakit  epilepsi pada dasarnya dikarenakan oleh faktor-faktor seperti : cuaca,suhu,kelembapan udara dan serta orang-orang yang berada dalam lingkungan tersebut. Karena cuaca,suhu yang ada dalam lingkungan sekitar dapat mempengaruhi timbulnya atau memacu seseorang yang menderita penyakit epilepsi dapat terjadi atau kambuh secara tidak disadari. Cuaca panas dan dingin dapat memicu seseorang dapat secara tidak sadar dapat timbul secara sendirinya. Karena epilepsi juga dapat dipengaruhi oleh orang disekitar atau faktor kurangnya komunikasi si penderita terhadap masyarakat dilingkungannya. Hal ini mengakibatkan si penderita lebih banyak meluangkan waktu sendiri dan banyak melamun,sehingga otaknya bekerja secara abnormal. Epilepsi secara medis dapat dikarenakan suhu karena suasana dingin dan panas itu merupakan penyebab tersendiri bagi seorang penderita,seperti seorang yang menderita ayan air dan orang yang trauma akan panas seperti keadaan sedang demam yang mengakibatkan panas yang tinggi  sehingga dapat seketika merasakan kejang karena kerja otak listrik yang secara abnormal memacu untuk terjadinya kejang dalam tubuh. Selain itu faktor orang-orang yang dapat mengganggu pikiran atau membuat seorang penderita terkejut dapat juga menyebabkan epilepsi terjadi secara langsung.
4.      Sosial Budaya
Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang sering terjadi dikalangan masyarakat pedesaan. Dimana  penyebab penyakit ini sudah menjadi budaya yang tidak dapat hilang dari pemikiran masyarakat. Dimana penyebabnya adalah karena adanya hal-hal gaib,roh-roh jahat  atau dikarenakan adanya kutukan. Pengertian masyarakat akan penyebab terjadinya penyakit ini sudah menjadi turun menurun kesetiap genarasi mereka. Sehingga penyebab penyakit  epilepsi ini sudah menjadi masalah sosial budaya yang  secara turun temurun dalam pemikiran masyarakat. Salah satunya di provinsi NTT.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Bangkitan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekolompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan berirama. Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi didalam otak lebih dominan dari pada proses inhibisi.
Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari narkotik. Umumnya epilepsi mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam process kelahiran, luka kepala, strok, tumor otak, alkohol. Kadang epilepsi mungkin juga karena genetik, tapi epilepsi bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.
.
B. Saran
Disarankan kepada pembaca agar menghindari faktor resiko penyebab epilepsi karena epilepsi dapat ditimbulkan karena kebiasaan yang salah.

0

Menghafal Susunan Note Gitar Pada Chord Guitar Dengan Formula Chord

by :  http://www.zonagitar.com/2013/04/menghafal-susunan-note-gitar-pada-chord.html

Bagi seorang gitaris dalam belajar gitar untuk menghapal nada dalam fretboard gitar agar mengetahui susunan note dalam kunci atau chord gitar biasanya mereka menggunakan Rumus Chord Gitar (Formula Chord) agar cepat memahami Chord Gitar tanpa harus menghapal chord secara satu persatu. karena jika menghapal semua bentuk chord gitar itu tidak ada patokanya, entah ada berapa kunci gitar itu.

Di samping menggunakan rumus chord gitar, mereka juga harus hapal dan paham letak nada di setiap kolom pada gitar pada fretboard 'neck guitar' dari ujung sampai pangkal, ini bertujuan agar ketika memainkan melodi gitar atau lead dari sebuah lagu mereka tidak kebinggungan dan  fals, karena kord gitar itu terdiri dari beberapa nada.

Sebuah Chord pada umumnya memiliki paling sedikit 3 note. atau sering di sebut Triad(kord yang berisi 3 nada), contoh; D F# A= Chord D. jika yang berisikan hanya 2 nada disebut Diad atau Power Chord, contoh D A = Chord D.

Untuk bisa menghapal semua nada yang berada dalam fretboard dari ujung hingga pangkal maka anda bisa menggunakan rumus nada dasar.

Atau langsung menandai pada gambar fretboard seperti gambar di bawah ini.
google image

Dan untuk menggunakan Rumus Formula Chord anda bisa melihat tabel di bawah ini

2

KARYA ILMIAH : PENGARUH HEADSET TERHADAP FUNGSI TELINGA

KARYA ILMIAH
PENGARUH HEADSET TERHADAP FUNGSI TELINGA
BAHASA INDONESIA

logo-unja.png

                   NAMA                         : NOVYTA MEILANY HARTANTI
NIM                              : G1B112019
KELAS                         : A


FAKULTAS KEDOKTERAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDY ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013


I.
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada era globalisasi ini, teknologi semakin canggih dan semakin mudah didapatkan oleh manusia. Salah satu contoh teknologi yang sangat canggih sekarang ini seperti notebook, handphone, MP3 Player, iPod dan lain-lain. Teknologi tersebut banyak membantu pekerjaan manusia sesuai dengan fungsinya. Teknologi merupakan alat yang praktis dalam melakukan segala hal, tetapi setiap manusia memakai teknologi tersebut menjadi kebiasaan yang tidak dapat diubah. Sehingga manusia menjadi kecendrungan atau ketergantungan terhadap teknologi yang digunakannya.
Musik merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dalam teknologi. Musik merupakan suatu media yang memberikan kenyamanan dalam kondisi keadaan yang tidak normal, seperti bosan, lelah, dan lain-lain. Biasanya media ini sangat digemari manusia khususnya dikalangan remaja. Kalangan remaja sangat menyukai musik dari berbagai aliran seperti pop, rock, jazz, dan sebagainya.
Notebook, handphone, MP3 Player, iPod dan lain-lain merupakan alat yang menyedia aplikasi musik. Adapun alat pendukung untuk mendengarkan musik pada teknologi ini yaitu sering kita sebut Headset atau Earphone atau Headphone. Bagi para remaja alat pendukung ini memberi keuntungan tersendiri karena mendengarkan musik tanpa mengganggu kegiatan orang lain. Alat yang kecil ini sangat praktis bagi pendengar musik jika ingin mendengarkan lagu dimana saja.
Menggunakan earphone atau headset memang memudahkan kita dalam menikmati musik tanpa mengganggu orang lain. Selain itu headset atau earphone ini juga bisa kita gunakan untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi menggunakan telepon meski sedang berkendara. Namun, dibalik semua keuntungan itu, headset ini juga mempunyai efek yang buruk untuk kesehatan.



1.2  Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah :
1.      Apa pengaruh Headset terhadap fungsi telinga ?




II.
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Headset
Pada saat sekarang ini earphone dan headset sangat sering digunakan oleh manusia, karena earphone dan headset berfungsi sebagai mendengarkan suara lebih baik. Adapun pengertian earphone adalah sepasang pengeras suara kecil yang digunakan sangat dekat dengan telinga. Dan headset adalah gabungan antara headphone dan mikrofon. Alat ini biasanya digunakan untuk mendengarkan suara dan berbicara dengan perangkat komunikasi atau komputer.
Headset adalah headphone dikombinasikan dengan mikrofon, atau satu headphone dengan mikrofon. Headset menyediakan fungsionalitas setara dengan handset telepon dengan tangan-operasi bebas. Headset biasanya hanya memiliki satu pembicara seperti telepon, tapi juga datang dengan speaker untuk kedua telinga. Mereka memiliki banyak kegunaan, termasuk dalam call center dan lainnya telepon-intensif pekerjaan dan bagi siapa pun yang ingin memiliki kedua tangan gratis selama percakapan telepon.

2.2 Pengertian Telinga
Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.Telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. Telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.
 Adapun proses mendengar pada telinga kita adalah:
Telinga dapat mendengar jika ada gelombang suara, gelombang suara akan dikumpulkan oleh daun telinga, kemudian disalurkan ke saluran telinga luar. Gelombang suara akan menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui tulang-tulang pendengaran. Selanjutnya getaran diteruskan ke telinga dalam melalui tingkap oval dan menggetarkan cairan perilimfe yang terdapat di dalam skala vestibuli. Getaran cairan itu akan menggetarkan membran Reissner dan cairan endolimfe dalam skala media, membran basilaris. Saat membran basilaris bergetar akan menggerakkan sel-sel rambut dan ketika sel-sel rambut menyentuh membran tektorial maka terjadi impuls yang akan dikirim ke saraf otak VIII lalu ke korteks otak bagian pendengaran untuk diinterpretasikan.


2.3 Pengaruh Headset Terhadap Telinga
            Headset atau Earphone telah menjadi bagian dari kehidupan generasi saat ini karena merupakan cara yang trendi untuk membuat perjalanan panjang atau melelahkan sebagai perjalanan yang menyenangkan. Earphone dapat digunakan dengan sejumlah gadget seperti pemutar MP3, ponsel, dll. Tidak diragukan lagi bahwa earphone aman digunakan, tetapi bahkan earphone terbaik dapat melibatkan kerusakan telinga dan resiko gangguan pendengaran.
            Kebiasaan mendengarkan portable music player (PMP), seperti MP3 player, bisa membuat telinga cedera. Itu terjadi jika kita terlalu sering memakai earphone atau headphone atau headset bervolume tinggi. Berdasarkan penelitian, efek buruk datang jika menggunakan earphone selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga. Kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda. Saat ini mungkin dampaknya belum terlihat, namun kelak akan terasa. “Mendengarkan pemutar musik personal secara reguler dalam volume tinggi ketika muda sering kali tidak berdampak pada pendengaran. Namun, kelak kemampuan mendengar bisa menghilang,” jelas salah seorang peneliti pada International Herald Tribune.
Pernyataan itu diberikan sembilan peneliti dari Committee on Emerging and Newly Identified Helat Risks. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa risiko kehilangan pendengaran akan didapatkan di pertengahan usia 20-an. Bagaimanapun, mendengarkan musik melalui media portabel juga menimbulkan dampak lain. Musik bisa mengisolasi pendengarnya dari khalayak ramai. Ketika mengemudi, musik dapat meningkatkan risiko hilangnya pendengaran terhadap situasi sekitar. Penyebab gangguan pendengaran memang beragam. Bergantung juga pada usia seseorang. Suara terbagi atas beberapa tingkat. Suara ringan untuk dewasa berada antara 25 hingga 40 dB, sedangkan untuk anak-anak 20 sampai 40 dB. Bertingkat semakin tinggi hingga suara terberat berkualitas 90 dB atau lebih yang masih dapat didengar manusia.
Gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap listrik otak, namun menjadi pertanyaan seberapa besar pengaruh gelombang tersebut terhadap kerusakan otak? sampai saat ini belum ada satupun bukti medis yang kuat untuk membuktikan itu. Meskipun gelombang elektromagnetik berpengaruh terhadap otak tikus, namun tidak terbukti pada otak manusia Sampai saat ini beberapa penelitian di Eropa pada gelombang elektromagnetik terhadap tumor otak tidak dapat membuktikan efek tersebut. Mengenai pengaruh terhadap telinga, paparan musik dengan earphone atau headset dapat mempengaruhi ambang pendengaran, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan jangka waktu lama.
Beberapa cara untuk mengurangi kerusakan pendengaran adalah : dengan mengurangi volume suara dan mengurangi waktu untuk mendengarkan dengan earphone atau headset. Namun seringkali juga orang-orang menggunakan headset atau earphone pada tempat-tempat yang ramai seperti stasiun kereta, terminal bus ,dsb, jadinya tanpa sadar cenderung untuk meningkatkan volume earphone lebih keras lagi. Beberapa saran untuk mengurangi efek samping misalnya menggunakan headphone yang besar (tipe yang lama), sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising dari luar dibandingkan earphone yang kecil. Tipe earbuds yang kecil mempunyai speaker kecil dengan volume besar yang diletakan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran dibandingkan dengan headphone yang hanya ditempel pada telinga luar.
             Agar tidak berbahaya untuk kesehatan, berikut ada beberapa tips penggunaan earphone yang aman:
1.      Pilihlah earphone yang paling cocok dengan telingamu
Sebelum membeli earphone, kamu bisa memilihnya terlebih dahulu. Apakah earphone itu nyaman atau tidak saat digunakan sehingga tidak membuat daun telinga kamu sakit dan lecet. Gak keren asal nyaman itu justru lebih baik.

2.      Jangan pasang volume pada maksimal
Jangan sekali-kali mendengarkan musik dengan earphone di volume suara yang tinggi atau keras. Karena hal itu hanya akan merusak fungsi pendengaran kamu. Dimana frekuansi lazim di dengar manusia sebenarnya berkisar 20 Hz sampai 20 KHz, meski ada beberapa yang berfrekuensi di atas itu.

3.      Gunakan earphone sesuai kebutuhan
Gunakanlah earphone dengan waktu yang wajar. Kamu bisa mengistirahatkan telinga kamu antara setengah sampai 1 jam. Apabila kamu menggunakan earphone secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan telinga kamu akan mengalami rusak permanen.

4.      Jangan gunakan di tempat bising (ribut/ramai)
Dianjurkan untuk tidak mendengarkan musik menggunakan earphone di tengah keramaian. Karena ada kemungkinan kamu akan meningkatkan volume agar tidak terganggu oleh kebisingan itu. Padahal hal itu akan membuat pendengaran mengalami kerusakan.

5.      Jangan dipasang terlalu rapat
Untuk mengurangi tegangan pada gendang telinga, sebaiknya kamu tidak menutup telinga terlalu rapat saat menggunakan earphone. Jika terlalu rapat itu akan menambah beban pada gendang telinga dan bisa saja telinga akan menjadi sakit dan kepala menjadi pusing. Karena saat kamu menutup telinga dengan earphone terlalu rapat, maka lubang telinga akan hampa udara dan dapat mengganggu pendengaran kamu.

6.      Pilih earphone yang mempunyai banyak fasilitas untuk melindungi telinga kamu
Kamu bisa memilih earphone dengan berbagai keunggulan. Misalnya earphone yang ada lapisan seperti lensa pada ujung earbundnya. Lapisan itu juga berguna untuk meredam gelombang tekanan pada gendang telinga. Jadi, cermatlah dalam memilih earphone atau headset.





III.
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Berdasarkan penelitian, efek buruk datang jika menggunakan earphone atau headset selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga. Kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda.
            Sembilan peneliti dari Committee on Emerging and Newly Identified Helat Risks. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa risiko kehilangan pendengaran akan didapatkan di pertengahan usia 20-an.
            Beberapa tips penggunaan earphone yang aman:
1.      Pilihlah earphone yang paling cocok dengan telingamu
2.      Jangan pasang volume pada maksimal
3.      Gunakan earphone sesuai kebutuhan
4.      Jangan gunakan di tempat bising (ribut/ramai)
5.      Jangan dipasang terlalu rapat
6.      Pilih earphone yang mempunyai banyak fasilitas untuk melindungi telinga kamu

3.2 Saran
            Pada para pengguna earphone atau headset disarankan sebaiknya menggunakan earphone atau headset sesuai dengan kebutuhan saja, jangan terlalu lama dan sering menggunakannya agar kesehatan telinga tidak terganggu sistem pendengarannya.



DAFTAR PUSTAKA

Back to Top